Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

AS Bikin Iran Makin Kuat di Timur Tengah, Ini Buktinya

Iran telah memanfaatkan konflik selama enam bulan terakhir untuk memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah, menentang tekanan Amerika Serikai (AS) untuk menyerahkan tuntutannya. Meskipun AS dan Israel menyoroti isu nuklir, tujuan utama Iran bukanlah senjata pemusnah massal, melainkan kendali strategis atas Selat Hormuz, jalur vital untuk perdagangan minyak dan gas. Menurut analis dari pusat studi Teluk Persia, Javad Heirannia, Teheran berusaha menjadikan kendali atas Selat Hormuz sebagai realitas yang diakui secara strategis, memberinya nilai tawar dalam perundingan nuklir dan jaminan keamanan di masa depan.

Pasca serangan Hamas pada Oktober 2023, Poros Perlawanan Iran—termasuk Hezbollah Lebanon, Houthi Yaman, dan kelompok milisi Irak—aktif memperluas konflik. Meskipun beberapa kelompok ini sempat melemah akibat serangan AS dan sekutunya, Iran tetap memperkuat jaringan milisinya dan membuka front baru, seperti serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Konflik ini juga memicu pergeseran aliansi regional: Arab Saudi semakin mendekat dengan kuartet kekuatan Muslim (Mesir, Turki, Pakistan), sementara Uni Emirat Arab memperdalam kooperasi dengan Israel, India, Yunani, dan Siprus. Perbedaan arah antara kedua negara ini menciptakan gesekan dalam Dewan Kerja Sama Teluk.

Konflik yang meluas ini merosotkan pengaruh AS di Timur Tengah. Sekutu-sekutu AS mulai mempertanyakan keamanan yang diberikan AS, sementara penempatan pasukbok US di Timur Tengah dan Amerika Selatan dinilai mengalihkan perhatian dari prioritas nasional. Situasi ini memberi ruang bagi China untuk memperluas pengaruhnya dengan menawarkan alternatif stabilitas. Menurut CEO Gulf State Analytics Giorgio Cafiero, kekuatan Teluk kini berusaha mendiversifikasi hubungan mereka dengan China dan negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada AS, sejalan dengan kepentingan jangka panjang Iran di kawasan tersebut.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait