AS Pertimbangkan Tarif Tambahan 7,5 Persen, China Tolak dan Siap Ambil Langkah Balasan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk menerapkan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap barang impor dari China. Langkah ini didorong oleh tuduhan Washington mengenai kelebihan kapasitas produksi manufaktur di China. Namun, China menolak tuduhan tersebut dan menyatakan penolakan keras terhadap kebijakan yang dianggap unilateral dan proteksionis.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China, Huang Ling, menyampaikan bahwa AS telah mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan. Menurutnya, kapasitas produksi harus dinilai secara objektif dan adil, serta tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menerapkan kebijakan proteksionis. China juga menekankan bahwa produksi yang melampaui konsumsi domestik tidak otomatis berarti terjadi kelebihan kapasitas, karena produksi dan permintaan harus dilihat dalam skala global.
China menyatakan akan terus memantau langkah-langkah AS dan mempertahankan hak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan jika kebijakan tarif tersebut diterapkan. Ketegangan ini muncul setelah luncunnya penyelidikan Section 301 oleh Kantor Perwakilan Dagang AS pada Maret, yang menyasar praktik manufaktur di China dan 15 negara atau wilayah ekonomi lainnya. Hingga kini, besaran tarif final belum diputuskan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 27 Agustus 2026 pukul 09.30
Perang Siber Memanas, Hacker China Dituduh Bobol Bank Sentral hingga Infrastruktur Vital AS
CNBC Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 19.40
Trump Mau "Tembak" 5 Negara Ini Buat Hancurkan Iran, Ada RI?
Berita terkait
AS Ungkap Serangan Siber yang Dikaitkan dengan China, NASA hingga The Fed Jadi Sasaran
VOI · 27 Agustus 2026 pukul 12.45
Ada Ada Saja, Donald Trump Ingin Ganti Nama Danau Ontario jadi Danau Amerika
VOI · 26 Agustus 2026 pukul 04.11
Tak Gentar, China Jawab Ancaman AS yang Minta Iran Dikucilkan dari Hubungan Bisnis
VOI · 26 Agustus 2026 pukul 02.09
Disanksi AS Terkait Iran, China Tegas Siapkan Balasan
SINDOnews · 25 Agustus 2026 pukul 20.56