Bank Negara Kaya Minyak Dilanda Krisis, Duit Kering Kerontang
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perbankan Rusia tengah mengalami krisis likuiditas serius karena kekurangan cadangan rubel untuk membeli obligasi pemerintah (OFZ). Kondisi ini menimbulkan keraguan akan kemampuan Moskow menutupi lonjakan pengeluaran perang melalui pinjaman domestik, sekaligus memperparah defisit anggaran negara. Bank Sentral Rusia semakin tertekan untuk menyuntikkan dana agar aliran pembelian utang negara tetap berjalan. Menurut Vice President dan CFO Sberbank, Taras Skvortsov, penarikan uang tunai dari sistem perbankan mencapai sekitar 2 triliun rubel (Rp378 triliun) sejak awal tahun, menciptakan guncangan dan defisit likuiditas yang parah. Akibatnya, perbankan hanya memiliki dana cukup untuk kegiatan bisnis inti, sementara pembelian OFZ tanpa premi signifikan tidak lagi memungkinkan. OFZ adalah obligasi pemerintah berdenominasi rubel yang dikeluarkan Kementerian Keuangan untuk mendanai pengeluaran dan operasional negara. Defisit anggaran federal Rusia mencapai 5,7 triliun rubel (Rp1.077 triliun) pada paruh pertama 2026, melonjak akibat pengeluaran pertahanan dan militer yang melebihi rencana. Laporan internal Bloomberg pada Juni 2026 memperkirakan pengeluaran terkait perang bisa melebihi anggaran sebesar 4 hingga 5 triliun rubel (Rp756 triliun hingga Rp945 triliun), memaksa Kementerian Keuangan mencari dana darurat tambahan sebesar 2 hingga 3 triliun rubel (Rp378 triliun hingga Rp567 triliun).
Bagikan
Berita terkait
Menteri Keuangan Purbaya Optimistis Target RAPBN 2027 Mampu Direalisasikan
VOI · 14 Agustus 2026 pukul 19.00
Defisit RAPBN 2027 Dipatok 2,40 Persen
Media Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 16.27
RAPBN 2027, Prabowo Bidik Penerimaan Negara Rp3.426 T
CNN Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 16.25
Prabowo Patok Defisit APBN 2027 Turun Jadi Rp671,2 Triliun
Warta Ekonomi · 14 Agustus 2026 pukul 16.09