Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Bisakah Krisis Bahan Bakar Rusia Bantu Akhiri Perang Ukraina?

Serangan Ukraina terhadap kilang minyak memicu krisis bahan bakar baru di Rusia, dengan setidaknya 30 wilayah terdampak, termasuk Moskow dan sekitarnya. Jaringan stasiun pengisian bahan bakar Gazprom Neft dan Tatneft membatasi penjualan, sementara warga di wilayah seperti Krasnodar dan Sochi mengantre berjam-jam. Menurut Oleg Grigorenko, krisis ini bukan hanya menghambat mobilitas pribadi tetapi juga mengganggu sektor ekonomi seperti taksi, logistik, dan konstruksi. Pemerintah Rusia memperkirakan pasokan akan kembali normal dalam dua hingga tiga minggu, namun sejumlah ahli meragukan perkiraan ini. Ekonom Nikolai Korzhenevsky mencatat penurunan produksi minyak dari 11,5 juta barel per hari pada 2019 ke kurang dari 9 juta barel saat ini, dengan risiko penurunan lebih lanjut hingga 8 juta barel jika tren berlanjut. Ia membandingkan situasi ini dengan krisis Venezuela, di mana pendapatan nasional terus menurun. Untuk mengatasi kelangkaan, pemerintah mengusulkan impor dari India dan Cina, namun hal ini dianggap sulit karena isolasi internasional dan ketidakmampuan untuk memastikan pasokan harian sebesar 200.000 ton. Di samping itu, kualitas bahan bakar yang menurun dan ketersediaan suku cadang yang terbatas menambah kesulitan, dengan bengkel di Moskow melaporkan daftar tunggu hingga beberapa bulan.

Berita terkait