Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

BPJS, Antrean, dan Empati yang Memudar

Seorang pasien meninggal dunia setelah menunggu delapan jam untuk memperoleh ruang perawatan di rumah sakit. Kejadian ini memicu perdebatan di media sosial, dengan sebagian pihak menyalahkan BPJS Kesehatan dan rumah sakit, sementara tenaga kesehatan juga menjadi sasaran kritik. Artikel menekankan bahwa hubungan antara lamanya antrean dan penyebab kematian pasien perlu dibuktikan melalui investigasi medis yang objektif, bukan kesimpulan berdasarkan informasi parsial.

Data BPJS Kesehatan menunjukkan adanya selisih sekitar Rp2 triliun per bulan antara penerimaan iuran dan biaya pelayanan, serta puluhan juta peserta tidak aktif akibat menunggak iuran. Pemerintah telah menyiapkan tambahan anggaran, namun suntikan dana tidak otomatis mengurangi antrean atau menambah kapasitas rumah sakit. Di sisi lain, banyak WNI di luar negeri menilai sistem JKN memberikan perlindungan kesehatan yang lebih terjangkau dibanding layanan di sejumlah negara maju.

Artikel menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap mata rantai pelayanan kesehatan, mulai dari sistem triase, kapasitas rumah sakit, distribusi tenaga kesehatan, hingga komunikasi kepada pasien dan keluarga. Penulis menegaskan bahwa BPJS merupakan pencapaian besar negara dalam jaminan kesehatan universal, namun mutu pelaksanaannya perlu terus diperbaiki, termasuk kepekaan kemanusiaan dalam pelayanan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait