Deep Learning, Kelompok Mana yang Lambat, Enggan, dan Menolak?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel membahas adopsi Pembelajaran Mendalam (PM) di Indonesia menggunakan teori difusi inovasi Everett M Rogers. Rogers membagi adopter menjadi lima kelompok: Innovators (2,5%), Early Adopters (13,5%), Early Majority (34%), Late Majority (34%), dan Laggards (16%). Kecepatan adopsi bervariasi tergantung persepsi manfaat, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan diuji, dan keterlihatan hasil inovasi. PM sebagai inovasi membutuhkan transformasi signifikan dalam cara belajar, sehingga tidak semua implementator dapat bergerak dengan kecepatan yang sama.
Kelompok yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Innovators perlu ruang bereksperimen, Early Adopters membutuhkan bukti dan jaringan, Early Majority memerlukan model teruji dan panduan jelas, Late Majority butuh praktik sederhana dan dukungan teknis, sementara Laggards perlu diagnosis penyebab keterlambatan mereka. Kebijakan tidak boleh menggunakan pendekatan 'one size fits all' karena kesiapan implementasi sangat bervariasi.
Kementerian Pendidikan sebaiknya membangun kebijakan terdiferensiasi dengan memetakan kesiapan implementator. Sekolah yang sudah maju dapat menjadi laboratorium praktik, sementara kelompok yang tertinggal perlu pendampingan intensif dan bantuan mengurangi kompleksitas. Keberhasilan PM tidak hanya diukur dari seberapa cepat istilahnya dikenal, tetapi dari perubahan keyakinan, praktik, dan pengalaman yang terjadi secara nyata di lapangan.
Bagikan
Berita terkait
PISA 2025: Indonesia Naik atau Turun?
Media Indonesia · 15 September 2026 pukul 05.00
Aisyiyah Lebong Gandeng Praktisi Yogyakarta Perkuat Mutu Pembelajaran PAUD
Media Indonesia · 9 September 2026 pukul 18.58
Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Sekolah di DKI Wajib PJJ Mulai 7 September
kumparan · 6 September 2026 pukul 23.19
DKI Jakarta terapkan pembelajaran jarak jauh antisipasi abu vulkanik
ANTARA News · 6 September 2026 pukul 16.25