Desil Bansos Banyak Dikeluhkan, Bakom Sebut Data Bisa Dievaluasi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pemerintah membuka ruang evaluasi terhadap data sosial ekonomi setelah muncul keluhan terkait perubahan desil yang memengaruhi akses bantuan sosial, termasuk kesulitan mahasiswa membayar UKT. Kepala Bakom M. Qodari menyatakan keluhan warga menjadi masukan untuk memperbaiki akurasi data penerima perlindungan sosial. Presiden Prabowo Subianto juga memperhatikan akurasi data tersebut. Untuk meningkatkan akurasi, pemerintah melakukan digitalisasi bantuan sosial yang tidak hanya memudahkan penerimaan bantuan tetapi juga memperbaiki data yang salah sasaran. Dalam uji coba di Surabaya, sistem digital berhasil mengidentifikasi sekitar 25.000 kepala keluarga yang termasuk dalam inclusion error (seharusnya tidak menerima bantuan tetapi tercatat sebagai penerima) dan sekitar 51.000 kepala keluarga yang termasuk dalam exclusion error (seharusnya berhak menerima tetapi tidak tercatat). Sistem ini memeriksa data lintas kementerian dan lembaga seperti PLN, kepolisian, dan ATR/BPN. Ke depan, pencocokan data direncanakan mencakup hingga delapan lembaga, dan kriteria penerima bantuan akan dievaluasi bersama BPS dan DENKO.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 24 Agustus 2026 pukul 17.30
Cegah Rakyat Kehilangan Bansos Gegara Status Desil, Ini 7 Tuntutan Aspirasi
Berita terkait
Mulai 2027, Warga Bisa Daftar Bansos Mandiri Lewat Portal Perlinsos
Warta Ekonomi · 21 Agustus 2026 pukul 16.30
Qodari: Pendaftaran Bansos dari 200 Hari Kini Dipangkas Jadi 5 Menit
SINDOnews · 20 Agustus 2026 pukul 13.16
Dulu Verifikasi 200 Hari, Kini 5 Menit: Revolusi Baru Bansos RI
CNBC Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 07.25
Taufan Pawe: IKD Harus Mempermudah, Bukan Menghambat Penerima Bansos
JPNN.com · 16 Agustus 2026 pukul 19.30