Dulu Disambut, Kini Pengungsi Rohingya Hadapi Penolakan di Malaysia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Warga Rohingya yang dulunya diterima di Malaysia kini semakin diperlakukan diskriminasi. Mantan PM Najib Razak tahun 2017 menyerukan perlindungan, namun sembilan tahun kemudian penolakan makin kuat. Anak-anak Rohingya tidak boleh sekolah di sekolah negeri, harus belajar di pusat komunitas yang sering digerebek. Sekolah ditutup, siswa dihukum tidak boleh pakai seragam, harus langsung pulang. Pengungsi diusir dari desa, ketakutan meningkat. PBB kira lebih dari 126.000 Rohingya di Malaysia, kandang utama kedua setelah Bangladesh. Sentimen anti-Rohingya membanjiri media sosial, petisi usir mengumpulkan 420.000 tanda tangan. Tokoh publik seperti Nurulhidayah Zahid dan Ayob Khan Mydin Pitchay menyebut Rohingya seperti monyet atau kanker. PM Anwar Ibrahim sebut 5.000 pengungsi akan dikembalikan ke Myanmar. Komunitas merasa tidak diinginkan di mana pun.
Bagikan
Berita terkait
Dosen Dipecat Usai Sebut Orang Melayu Bisa Terbang
CNBC Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 10.30
Gempa NTT, 1.378 Sekolah Terdampak dan 38 Ribu Warga Sekolah Mengungsi
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 13.45
Jazuli Resmikan Pengurus Perwakilan Mathla’ul Anwar Malaysia, Kukuhkan Jejaring Kerja Sama Regional
JPNN.com · 21 Agustus 2026 pukul 00.01
Myanmar Akui 309 Ribu Pengungsi Rohingya sebagai Mantan Penduduk Rakhine
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 16.03