Ekonom: Pembatasan Pertalite Berpotensi Bebani Rumah Tangga
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pemerintah rencana membatasi pembelian Pertalite subsidi, diperkirakan menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menyatakan kebijakan ini tidak sekecil yang terlihat. Saat ini Pertalite dijual Rp10.000 per liter, sementara Pertamax Rp15.950 per liter. Masyarakat yang kehilangan akses Pertalite dan harus beralih ke Pertamax akan mengalami kenaikan biaya hingga 60%. Dari perspektif fiskal, manfaat penghematan subsidi diperkirakan Rp8,9 triliun hingga Rp17 triliun, yang relatif kecil dibandingkan belanja subsidi dan kompensasi energi ratusan triliun rupiah. Yusuf menambahkan bahwa selisih harga antara Pertalite dan Pertamax tidak sepenuhnya menjadi keuntungan negara karena ada komponen pajak daerah dan margin usaha. Pemerintah perlu menghitung manfaat fiskal secara menyeluruh dengan mempertimbangkan biaya administrasi, konsekuensi politik, serta beban ekonomi yang berpotensi berpindah kepada rumah tangga. Dari sisi inflasi, dampak langsung pembatasan Pertalite diperkirakan relatif kecil, tetapi bukan berarti tidak ada. Harga Pertalite tidak mengalami kenaikan, namun jika sebagian konsumen beralih menggunakan Pertamax yang memiliki harga lebih tinggi, rata-rata harga bensin yang dibayarkan masyarakat tetap dapat meningkat dan berpotensi tercermin dalam angka inflasi. Inflasi tahunan pada Juli telah mencapai 2,88%. Pemerintah sebaiknya tidak menerapkan pembatasan secara mendadak. Kebijakan tersebut dinilai lebih aman jika dilakukan secara bertahap agar masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan diri. Risiko terbesar dapat muncul dari kelompok pekerja yang menggunakan kendaraan sebagai bagian dari aktivitas ekonominya, terutama pengemudi ojek dan transportasi daring. Penggunaan desil sebagai garis pembatas untuk menentukan rencana pembatasan pembelian BBM subsidi dinilai bermasalah.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
kumparan · 20 Agustus 2026 pukul 11.20
Utang AS Sentuh USD 40 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Liputan6.com · 20 Agustus 2026 pukul 09.57
Dorong Bisnis Bullion, Menko Airlangga Resmikan IBMA
JPNN.com · 20 Agustus 2026 pukul 07.15
Bahlil: yang Sudah Kaya Jangan Mengambil Hak Rakyat
Liputan6.com · 19 Agustus 2026 pukul 17.41
Bahlil Masih Godok Larangan Orang Kaya Beli Pertalite: Jangan Ambil Hak Rakyat
Berita terkait
Pemerintah Jaga Stabilitas BBM, Pakar Dorong Efisiensi Subsidi Energi Tahun Depan
JPNN.com · 16 September 2026 pukul 07.25
Harga Pertalite Stagnan saat Minyak Dunia Melonjak, Ekonom: Inflasi Tak Terkendali Jika Harga Naik
JawaPos · 15 September 2026 pukul 18.15
Pemerintah Targetkan Bisa Buka 3,49 Juta Lapangan Pekerjaan di 2027
kumparan · 27 Agustus 2026 pukul 17.45
Pemerintah Kaji Pembatasan Pertalite Berdasarkan Jenis Kendaraan
SINDOnews · 21 Agustus 2026 pukul 21.28