Jakarta · Senin, 5 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Eropa di Ujung Tanduk, Bisa Jadi 'Orang Sakit' Dunia

Uni Eropa (UE) berada di ambang krisis ekonomi jika tidak segera mempercepat reformasi yang dirancang mantan Kepala ECB Mario Draghi. Hingga Juli 2026, hanya sekitar 15,7% rekomendasi Draghi yang dijalankan penuh, sementara 40% lainnya baru dilaksanakan sebagian. Untuk agenda kritis seperti pasar modal tunggal dan pasar energi terpadu, progresnya bahkan lebih rendah—hanya sekitar 3% yang selesai. Reformasi ini membutuhkan konsensus dari semua negara anggota, yang justru semakin sulit dengan gelombang pemilu yang akan datang di Prancis, Spanyol, Italia, dan Polandia pada 2026–2027. Partai sayap kanan seperti National Rally di Prancis dan Alternative for Germany (AfD) semakin kuat, berpotensi menghambat dukungan terhadap reformasi struktural. Di sisi lain, Jerman mulai mengambil langkah nyata dengan melonggakankan aturan 'debt brake', membuka ruang untuk investasi infrastruktur senilai €500 miliar dan reformasi di sektor energi, pensiun, dan ketenagakerjaan, meski kebijakan ini masih menghadapi penolakan publik.

Tekanan reformasi semakin mendesak karena persaingan global yang ketat, terutama dalam teknologi dan energi. Komisaris Eropa Ursula von der Leyen menekankan perlunya percepatan proyek strategis, termasuk pembentukan pasar modal tunggal yang berpotensi membuka akses ke €35 triliun tabungan rumah tangga. Menurut analisis IMF, reformasi ini dapat meningkatkan produktivitas Eropa hingga 20% dalam satu dekade. Di bidang energi, pengembangan kecerdasan buatan (AI) membutuhkan pasokan listrik yang murah dan terintegrasi, sekaligus menjadi ujian besar. ECB memperkirakan adopsi AI dapat meningkatkan produktivitas UE hingga 4%, namun manfaat ini tidak tercapai jika infrastruktur energi belum siap. ECB juga memperingatkan bahwa keterlambatan reformasi dapat memperlebar kesenjangan produktivitas dengan AS dan meningkatkan ketergantungan pada teknologi asing, terutama dari AS dan China.

Jika tren ini berlanjut, Eropa berisiko kalah dalam persaingan ekonomi dan teknologi jangka panjang. Keterlambatan reformasi yang selama ini dianggap sebagai sikap hati-hati kini berubah menjadi ancaman nyata bagi kemandirian dan daya saing Eropa di pasar global.

Berita terkait