Faktor-Faktor yang Bisa Memicu Masalah Emosional pada Anak dengan Disleksia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Orang tua disarankan agar tidak menyalahkan anak dengan disleksia dengan sebutan seperti 'pemalas' atau 'bodoh', karena hal tersebut berisiko menyebabkan trauma dan masalah emosional seperti kecemasan atau depresi. Dr. Farid Agung Rahmadi, dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial, menjelaskan bahwa anak dengan disleksia sebenarnya memiliki kapasitas kecerdasan normal hingga tinggi, namun mengalami hambatan spesifik dalam bidang akademik tertentu. Akibat siklus kegagalan berulang, anak disleksia cenderung kehilangan rasa percaya diri dan menghindar dari aktivitas belajar.
Dr. Farid menekankan pentingnya dukungan emosional dari orang tua melalui pemahaman terhadap kesulitan dan perasaan anak, serta bantuan dalam meningkatkan efektivitas belajar. Orang tua juga disarankan untuk mencari kekuatan anak di bidang lain agar menjadi sumber kebanggaan. Selain itu, konsultasi dengan profesional seperti psikolog klinis anak atau dokter spesialis tumbuh kembang diperlukan untuk evaluasi akurat dan intervensi terapi yang sesuai.
Riset terbaru juga menunjukkan bahwa deteksi dini disleksia dapat dilakukan melalui pola gerakan mata sebelum anak belajar membaca. Kondisi emosional anak sangat memengaruhi kemampuan menyerap pelajaran, sehingga penguatan psikologis di rumah dan sekolah menjadi faktor kunci dalam mendukung perkembangan anak dengan gangguan belajar spesifik.
Bagikan
Berita terkait
Pakar Ungkap Cara Bantu Anak Disleksia Capai Target Belajar
Media Indonesia · 15 September 2026 pukul 22.50
5 Tanda Disleksia pada Anak saat Belajar Membaca yang Wajib Diwaspadai
Media Indonesia · 15 September 2026 pukul 19.04
Main Media Sosial Terlalu Dini, Apakah Anak Lebih Rentan Mengalami Kecemasan?
Media Indonesia · 31 Agustus 2026 pukul 21.30
Cara Membangun Kepercayaan Diri Anak Disleksia
Media Indonesia · 15 September 2026 pukul 19.16