Jakarta · Rabu, 16 September 2026Cari
WargaKonoha

Faktor-Faktor yang Bisa Memicu Masalah Emosional pada Anak dengan Disleksia

Orang tua disarankan agar tidak menyalahkan anak dengan disleksia dengan sebutan seperti 'pemalas' atau 'bodoh', karena hal tersebut berisiko menyebabkan trauma dan masalah emosional seperti kecemasan atau depresi. Dr. Farid Agung Rahmadi, dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial, menjelaskan bahwa anak dengan disleksia sebenarnya memiliki kapasitas kecerdasan normal hingga tinggi, namun mengalami hambatan spesifik dalam bidang akademik tertentu. Akibat siklus kegagalan berulang, anak disleksia cenderung kehilangan rasa percaya diri dan menghindar dari aktivitas belajar.

Dr. Farid menekankan pentingnya dukungan emosional dari orang tua melalui pemahaman terhadap kesulitan dan perasaan anak, serta bantuan dalam meningkatkan efektivitas belajar. Orang tua juga disarankan untuk mencari kekuatan anak di bidang lain agar menjadi sumber kebanggaan. Selain itu, konsultasi dengan profesional seperti psikolog klinis anak atau dokter spesialis tumbuh kembang diperlukan untuk evaluasi akurat dan intervensi terapi yang sesuai.

Riset terbaru juga menunjukkan bahwa deteksi dini disleksia dapat dilakukan melalui pola gerakan mata sebelum anak belajar membaca. Kondisi emosional anak sangat memengaruhi kemampuan menyerap pelajaran, sehingga penguatan psikologis di rumah dan sekolah menjadi faktor kunci dalam mendukung perkembangan anak dengan gangguan belajar spesifik.

Berita terkait