Garuda Catatkan Anomali Positif di Tengah Beban Avtur Industri Aviasi Global
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri penerbangan global mengalami tekanan biaya akibat lonjangan harga avtur. Hingga April 2026, jet fuel naik 121% dibandingkan April 2025, dengan perkiraan rata-rata USD152 per barel tahun 2026 – hampir 70% lebih tinggi dari 2025. Konflik Timur Tengah memicu gangguan pasokan energi global. Singapore Airlines dan Lufthansa Group mengalami penekanan profitabilitas meski revenue tetap tumbuh. Di Indonesia, pengamat Alvin Lie menyatakan Agustus-November 2026 sebagai masa kritis bagi maskapai akibat harga avtur, pelemahan rupiah, dan low season. Avtur menyumbang lebih dari separuh biaya operasional maskapai, dengan 90% biaya menggunakan mata uang asing. Garuda Indonesia mencatat revenue naik 16,0% menjadi USD1,80 miliar pada Semester I 2026, EBIT naik 12,7% menjadi USD74,0 juta, namun rugi bersih tetap ada sebesar USD113,0 juta.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 30 September 2026 pukul 12.03
Indonesia Kejar Kursi Dewan ICAO, Menhub Galang Dukungan Internasional
Liputan6.com · 29 September 2026 pukul 19.00
Kabut Asap Mereda, Bandara Singkawang Kembali Melayani Penerbangan 1 Oktober 2026
Berita terkait
Garuda Indonesia Masih Rugi, DPR Soroti Sejumlah Pekerjaan Rumah
Warta Ekonomi · 24 September 2026 pukul 11.02
Tony Fernandes Angkat Bicara Soal Keuangan yang Sedang Dihadapi AriAsia
Warta Ekonomi · 19 September 2026 pukul 15.07
AirAsia Terbelit Utang Rp79,7 Triliun di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Warta Ekonomi · 19 September 2026 pukul 14.11
Penerbangan Bandara Singkawang Terhenti Sebulan akibat Kabut Asap
Liputan6.com · 18 September 2026 pukul 20.30