AirAsia Terbelit Utang Rp79,7 Triliun di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

AirAsia menghadapi krisis finansial berat dengan kewajiban lancar mencapai Rp79,71 triliun per 30 Juni 2026, sementara kas hanya tersedia 954 juta ringgit. Tekanan ini dipicu oleh lonjakan harga avtur akibat konflik Timur Tengah yang mencapai US$200 per barel, menyebabkan biaya operasional di Malaysia naik 200 juta ringgit dalam sebulan. Pada kuartal II 2026, maskapai mencatat rugi bersih sekitar Rp3,59 triliun.
Sebagai dampak, AirAsia menangguhkan 21 rute dan memangkas kapasitas 10% pada April-Mei 2026, termasuk rute Indonesia dan Thailand. Saat ini, perusahaan mencari pendanaan internasional hingga US$1 miliar dan kredit lokal 700 juta ringgit, meski diperkirakan membutuhkan modal segar minimal US$3 miliar. Pemerintah Malaysia telah meminta Malaysia Airlines dan Batik Air bersiap mengambil alih rute domestik jika kondisi memburuk.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 18 September 2026 pukul 16.00
Isu Finansial Menerpa AirAsia, Tony Fernandes Buka Suara
kumparan · 18 September 2026 pukul 05.00
Populer: Keuangan AirAsia Tertekan; BPJS Kesehatan Kejar Rp 20 T
Berita terkait
AirAsia Goyang usai Rugi Rp3,39 T, Malaysia Bakal Gaet Batik Air dan Malaysia Airlines
Warta Ekonomi · 17 September 2026 pukul 16.30
AirAsia Berdarah-darah, Malaysia Siapkan Skenario Darurat
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 16.55
Malaysia Rayu Maskapai Lokal-Batik Air Caplok Pasar AirAsia, Ada Apa?
CNN Indonesia · 16 September 2026 pukul 12.51
Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, AirAsia Beri Pilihan ke Penumpang
Liputan6.com · 7 September 2026 pukul 15.23