Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Gubernur Bank Sentral Libya Mundur di Tengah Tekanan Ekonomi

Gubernur Bank Sentral Libya (CBL) Naji Issa mengajukan pengunduran dirinya pada 9 Agustus 2026 kepada dua lembaga legislatif, tanpa menyebutkan alasan spesifik. Issa mengonfirmasi keaslian suratnya namun menyatakan sensitivitas isu yang melatarbelakangi pengunduran dirinya. Ketua Dewan Tinggi Negara Libya, Mohamed Takala, meminta Issa tetap bertugas hingga pengganti resmi ditunjuk untuk menjaga stabilitas keuangan dan politik. Belum ada pernyataan resmi yang menghubungkan langsung pengunduran dirinya dengan kebijakan ekonomi tertentu.

Menurut pengamat lokal Husni Bey dalam op-ed di Libya Herald, pengunduran dirinya terjadi di tengah tekanan ekonomi yang semakin sulit dikendalikan. Libya bergantung pada pendapatan minyak dan gas dalam mata uang asing, sementara belanja pemerintah dilakukan dalam dinar Libya. Pada April 2026, pemerintah menyetujui anggaran belanja publik sebesar 190 miliar dinar Libya (sekitar Rp 513 triliun), termasuk 73 miliar dinar untuk gaji dan 37 miliar dinar untuk subsidi. Bey menyoroti konflik antara otoritas politik yang ingin CBL memberikan pembiayaan dan bank sentral yang harus melindungi cadangan devisa.

Tekanan ini semakin penting karena kebutuhan valuta asing Libya sangat besar. Data CBL menunjukkan penggunaan valuta asing oleh bank komersial dalam lima bulan pertama 2026 mencapai US$12,9 miliar. Bank sentral dituntur untuk membiayai belanja publik tinggi, menjaga nilai dinar, menyediakan valuta asing untuk perdagangan, dan melindungi cadaran devisa. Bey menekankan bahwa seluruh target ini sulit dipertahankan secara bersamaan jika isu fiskal tidak diatasi. Libya menghadapi pilihan sulit antara reformasi belanja, penggunaan cadangan devisa, atau menyesuaikan nilai dinar, dengan politik yang mungkin menunda namun tidak dapat membatalkan konsekuensi ekonomi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait