Hilirisasi Mineral Tak Cukup, Indonesia Harus Kuasai Teknologi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, pembahasan tentang hilirisasi mineral kembali mendapatkan perhatian. Is Prima Nanda, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas, menegaskan bahwa kekayaan mineral Indonesia tidak cukup hanya diolah menjadi bahan baku; nilainya akan lebih besar ketika dikembangkan menjadi material maju dan produk teknologi bernilai tinggi. Hal ini penting untuk meningkatkan kapabilitas industri, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat kemandirian teknologi nasional.
Menurut Prima Nanda, tantangan utama Indonesia bukan lagi ketersediaan sumber daya mineral, tetapi kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi. Indonesia perlu menguasai teknologi mulai dari pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufaktur. Tujuannya adalah agar negeri dapat naik ke produk teknologi bernilai tinggi, bukan sekadar meningkatkan kapasitas produksi mineral.
Material dianggap sebagai fondasi hampir seluruh teknologi modern. Mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, timah, dan mineral kritis lainnya, baru akan memberikan nilai tambah yang signifikan jika berhasil direkayasa menjadi material dengan karakteristik dan performa khusus yang dibutuhkan oleh industri teknologi.
Bagikan
Berita terkait
Top 3: Lowongan Kerja Sinar Group
Liputan6.com · 16 Agustus 2026 pukul 08.00
Tenaga Kerja Otomotif Jerman Turun 42.300 Orang, Terendah sejak 2005
VOI · 15 Agustus 2026 pukul 10.30
Investasi Hilirisasi Tembus Rp300,1 Triliun di Semester I-2026
Warta Ekonomi · 14 Agustus 2026 pukul 20.50
Pakar: Penguatan industri-investasi pacu pertumbuhan ekonomi 6 persen
ANTARA News · 14 Agustus 2026 pukul 15.28