IPKB Minta Pemerintah Tak Gegabah Buka Keran Impor saat Stok Ritel Menipis
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) meminta pemerintah tidak gegabah membuka impor meski stok ritel semakin menipis. Menurut Ketua Umum IPKB Nandi Herdiaman, kondisi ini tidak perlu langsung jadi alasan untuk membanjiri pasar dengan produk impor murah. IPKB menekankan bahwa industri kecil dan menengah (IKM) konveksi masih bertahan dan belum ada peningkatan permintaan yang signifikan. Barang impor murah masih banyak dijual baik di platform online maupun pasar fisik, menunjukkan masalahnya bukan pada ketersediaan barang tetapi pada daya saing dan kebijakan. IPKB juga menyoroti bahwa kapasitas produksi IKM konveksi masih banyak menganggur, tenaga kerja jahit masih membutuhkan order, dan gudang-gudang IKM masih terisi produk dalam negeri. Mereka membandingkan dengan China yang mengutamakan produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan ritel, sehingga industri domestiknya kuat. IPKB mendesak pemerintah menolak impor produk jadi tekstil serupa, mempercepat kuras dan fasilitasi untuk IKM, serta memperkuat pengawasan terhadap barang impor ilegal dan bekas agar tidak membanjiri pasar. Menurut Nandi, IKM konveksi menyerap lebih dari tiga hingga empat juta tenaga kerja, sehingga menjaga pasar domestik berarti menjaga lapangan kerja dan ketahanan ekonomi rakyat.
Bagikan
Berita terkait
Jangan Happy Dulu! Industri Sepatu RI Was-Was Meski Bangkit 11% di Q2
CNBC Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 13.20
Maman Ungkap Biang Kerok Produk UMKM Lokal Sulit Bersaing di RI
CNN Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 13.03
Mendag Was-was Peternak Tak Bisa Bertahan Imbas Harga Telur Rp26 Ribu
CNN Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 18.29
Bukan Cuma Harga, Ini yang Bikin Orang RI Pilih Belanja ke Luar Negeri
Warta Ekonomi · 27 Agustus 2026 pukul 11.18