Jakarta · Jumat, 11 September 2026Cari
WargaKonoha

Iran Dianggap Cari Perkara ke "NATO Islam", Perang Besar Menanti?

Serangan besar-besaran kelompok Houthi Yaman ke Arab Saudi menjadi ujian pertama bagi Perjanjian Pertahanan Gabungan Makkah, pakta pertahanan militer antara Riyadh, Ankara, dan Islamabad yang baru dibentuk pada Agustus 2026. Menurut koalisi pimpinan Saudi, rudal dan pesawat tak berawak Houthi menghantam target sipil dan ekonomi di empat kota selatan, melukai setidih 73 orang, dan membakar fasilitas energi krusial. Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Abha, Jizan, dan Najran, serta Pangkalan Udara Raja Khalid di Khamis Mushait, termasuk kilang di Jizan dengan kapasitas 400.000 barel per hari.

Houthi menyatakan operasi ini sebagai balasan atas 121 serangan udara Saudi di Yaman selama tiga hari sebelumnya. Namun, reaksi sekutu Arab Saudi terbatas pada retorika kutukan dan dukungan verbal. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif hanya menyebut serangan sebagai tindakan pengecut, sementara Kementerian Luar Negeri Turki menuntut penghentian serangan tanpa mengumumkan bantuan militer.

Krisis ini menekan kredibilitas Perjanjian Mekkah yang menyiratkan konsep serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua, mirip Pasal 5 NATO. Para ahli mencatat formula pertahanan kolektif ini belum didukung oleh mekanisme militer yang berfungsi. Di tengah ketidakpastian ini, harga minyak mentak Brent naik mendekati US$99 per barel akibat ancaman pada rute energi utama, termasuk konflik terbaru AS dan Iran di Selat Hormuz pada 4 September 2026.

Berita terkait