Jalur Ekspor Indonesia Diuji Geopolitik dan Tekanan Emisi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pada Maret 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan sekitar 95 persen, dari rata-rata 130 kapal per hari hanya tersisa enam kapal akibat peningkatan konflik di kawasan Timur Tengah. UN Trade and Development melaporkan bahwa gangguan ini tidak hanya mempengaruhi jalur minyak dan gas, tetapi juga bahan baku pupek, petrokimia, dan komoditas industri lainnya. Akibatnya, biaya bahan bakar, premi asuransi, dan tarif angkutan naik secara signifikan, sementara jadwal pengiriman yang telah direncanakan selama berbulan-bulan bisa berubah dalam hitungan hari.
Ketergantungan Indonesia pada jalur internasional semakin meningkat, sementara produsen lokal membutuhkan mesin, energi, bahan baku, komponen, dan barang modal dari luar negeri. Ketika jalur utama seperti Selat Hormuz terganggu, perusahaan dihadapkan pada pilihan sulit: mencari rute alternatif yang memperpanjang waktu pengiriman, menunda pengiriman, atau menghadapi kenaikan biaya operasional yang tidak terduga.
Menurut OECD Supply Chain Resilience Review 2025, upaya relokalisasi rantai pasok secara luas dapat mengurangi perdagangan dunia lebih dari 18 persen dan menurunkan produk domestik bruto riil global lebih dari 5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sementara strategi ini dapat meningkatkan ketahanan, dampacanya terhadap ekonomi global tetap signifikan dan kompleks.
Bagikan
Berita terkait
Kemenko Perekonomian Dorong Manufaktur RI Perkuat Teknologi dan Rantai Pasok
Warta Ekonomi · 19 September 2026 pukul 10.40
Arab Alihkan Jalur Ekspor, Harga Minyak Turun!
CNBC Indonesia · 18 September 2026 pukul 09.08
Iran Ogah Damai 'Cuma-Cuma', AS dan Dunia Tertekan Harga Minyak
Warta Ekonomi · 17 September 2026 pukul 15.51
AEML Ungkap Tantangan Pengembangan EV di RI
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 15.29