Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping, China Mainkan Lagi Kartu Mati AS

Beberapa perusahaan mineral tanah jarang asal China menahan pengiriman ke Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran risiko geopolitik, menjelang pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan pada 24 September 2026. Langkah ini memperlihatkan ketergantungan AS pada China untuk mineral strategis. Tiga sumber melaporkan bahwa sejumlah pemasok China menolak mengirimkan tanah jarang ke perusahaan AS karena takut mendapat sanksi dari Beijing. Penahanan pengiriman dimulai sejak awal Agustus setelah China menjatuhkan sanksi terhadap Responsible Business Alliance (RBA), lembaga pemantau rantai pasok perusahaan AS. Beberapa pemasok khawatir dikenai hukuman jika terlibat dalam audit mineral global melalui Responsible Minerals Initiative (RMI).

Meski ekspor tanah jarang mulai pulih setelah pembatasan China pada April 2025, harga material seperti yttrium, indium fosfida, dan tungsten masih tinggi. Beberapa perusahaan AS menunggu lebih dari enam bulan untuk izin ekspor. Ahli geopolitik Reva Goujon dari Rhodium Group menyatakan bahwa China efektif menggunakan kontrol ekspor untuk tekan kebijakan AS. Ia memperkirakan Beijing akan sedikit melonggarkan kontrol bahan baku menjelang pertemuan Xi-Trump untuk meredam tuduhan tidak mematuhi kesepakatan Busan.

Kementerian Luar Negeri China menegaskan komitmennya menjaga rantai pasok global. Data bea cukai menunjukkan ekspor yttrium China ke AS masih sekitar separuh dari tahun 2024, meski pada Juli China mengirim 27 ton, salah satu volume terbesar sejak Januari 2025. Beberapa perusahaan AS mulai menerima izin baru, mencerminkan kemungkinan peningkatan ekspor menjelang pertemuan kedua pemimpin.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait