Jiwa Bima Dalam Penegakan Hukum Pemilu
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pemilu merupakan perayaan kedaulatan rakyat dan arena pertarungan kekuasaan, namun sering dangkal akibat pelanggaran seperti politik uang, politisasi birokrasi, dan penyalahgunaan fasilitas negara. Respons lembaga penegak hukum pemilu justru antiklimaks, membuatnya tampak kehilangan 'Kuku Pancanaka' Bima. Bima mengajarkan keraguan sebagai pengkhianatan dalam menegakkan kebenaran, sehingga penegak hukum pemilu harus menunjukkan ketegasan melalui progresivitas hukum—menembus kebekuan aturan formal demi keadilan substantif. Penghadiran jiwa Bima dalam konteks modern sangat relevan untuk mendorong ketegasan intelektual dan moral dalam penegakan hukum pemilu.
Bagikan
Berita terkait
Pigai: Warga Papua cuma Boleh Tuntut Keadilan, bukan Merdeka
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 08.29
Iklan Kampanye Netanyahu Pajang Zohran Mamdani dengan Pemimpin Iran dan Hizbullah
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 20.52
Refleksi HUT ke-81 RI, Sahroni: Semoga Hukum Makin Ditegakkan, Tanpa Harus Viral Duluan
SINDOnews · 17 Agustus 2026 pukul 16.55
HUT Ke-81 RI, Keadilan Penegakan Hukum Dinilai Hanya Sebatas Omon-omon
JawaPos · 17 Agustus 2026 pukul 16.45