Kakao yang Tumbuh Subur di Kawasan Karst Gunungkidul
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah kawasan karst Gunungkidul yang identik dengan lahan sempit dan ancaman kekeringan, petani lokal berhasil mengembangkan budidaya kakao sebagai penggerak ekonomi baru. Lebih dari 53 persen wilayah Gunungkidul, setara dengan 807 kilometer persegi, termasuk dalam Kawasan Bentang Alam Karst Gunungsewu. Di Dusun Gambiran, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, kakao ditanam di pekarangan sempit dan berselang-seling dengan tanaman naungan lainnya. Paryanto (50), petani lokal, memulai budidaya ini pada 2004 dan fokus intensif sejak 2009. Karena kakao merupakan tanaman hutan yang membutuhkan naungan, pola ini cocok dengan ekosistem setempat dan memungkinkan tanam lebih dari satu komoditas dalam satu lahan. Inisiatif ini juga mendukung Program Lumbung Mataraman Pemerintah DIY untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Bagikan
Berita terkait
Buntu dan Bikin Banjir, Luweng di Gebluk Dikeruk Pakai Alat Berat
JPNN.com · 15 September 2026 pukul 22.15
Indonesia Kini Peringkat 7 Produsen Kakao Dunia, Pemerintah Genjot Peremajaan Lahan
Liputan6.com · 11 September 2026 pukul 17.15
Dorong Hilirisasi Kakao, Pemerintah Benahi Kebun Petani
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 17.27
Kakao Jembrana Tembus 15 Brand Dunia, Petani Panen Cuan
JPNN.com · 2 Agustus 2026 pukul 08.51