Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ketika Empati Hilang, Coreng Wajah Pelayanan Kesehatan

Yurizal, pasien peserta BPJS, meninggal dunia setelah sempat mengeluh menunggu delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Keluhan yang diunggahnya di media sosial justru dibalas komentar sinis dan minim empati dari sejumlah akun yang diduga milik tenaga kesehatan. Beberapa komentar menyebut pasien "bacot" dan menyarankan pindah ke ruang jenazah. Komentar-komentar ini memicu kemarahan publik dan membuka diskusi mengenai etika tenaga kesehatan di ruang digital.

Organisasi profesi dan pemerintah merespons kasus ini. Ketua IDI Slamet Budiarto menegaskan komentar tersebut bertentangan dengan kode etik dan sumpah profesi dokter, serta berjanji menelusuri asal tenaga kesehatan yang bersangkutan. Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) juga tengah mengidentifikasi dan mendata tenaga medis yang diduga terlibat, sementara Kementerian Kesehatan menyayangkan sikap tidak berempati tersebut. Akademisi komunikasi digital Afgiansyah menilai masalah ini juga berkaitan dengan rendahnya literasi media sosial di kalangan tenaga kesehatan.

Setelah kasus ini menjadi sorotan, beberapa pemilik akun yang melontarkan komentar sinis menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Mereka mengakui komentar yang ditulis tidak mencerminkan empati dan profesionalisme, serta menyatakan siap menerima segala konsekuensi dari perbuatannya.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait