Kita Bukan Pemilik Bumi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini mengkaji konsep khalifah dalam Islam tidak hanya sebagai wewenang politik, tetapi sebagai tanggung jawab manusia terhadap bumi. Penulis menegaskan bahwa bumi bukanlah komoditas yang bisa dieksploitasi semena-mena, melainkan amanah yang harus dilindungi. Dalam Al-Qur'an, khalifah diutus untuk memakmurkan bumi (QS Hud: 61), bukan sekadar memonopokan sumber dayanya. Konsep ini mengaitkan eksploitasi alam dengan ilusi kepemilikan, yang mendorong pembabaran hutan, pencemaran sungai, dan degradasi tanah demi keuntungan jangka pendek.
Penulis menekankan bahwa kesadaran akan posisi sementara manusia di bumi—sebagai 'pejabat sementara'—harus melolongkan sikap destruktif. Sabda Nabi Muhammad SAW tentang menanam pohon meski di saat kiamat menjadi simbol komitmen tidak terikat pada kalkulus ekonomi. Menurutnya, ukuran keberhasilan khalifah bukan pada akumulasi kekayaan alam, tetapi pada seberapa hijau dan layak bumi yang ditinggalkan bagi generasi mendatang.
Artikel ini juga mengkritik rendahnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian bumi, meski sering memperdebatkan soal kekuasaan. Penulis menyerukan pemulihan pemahaman kolektif tentang khalifah sebagai landasan etika ekologi Islam, agar kebijakan dan tindakan manusia selaras dengan kelangsungan ekosistem.
Bagikan
Berita terkait
Karhutla, Komnas HAM Minta Korporasi dan Beneficial Owner Ditindak
CNN Indonesia · 3 September 2026 pukul 12.20
Kebakaran Hutan Bikin Kualitas Udara Memburuk, Dompet Dhuafa Gencar Bagikan Masker
VOI · 3 September 2026 pukul 11.45
Analis: Denda Korporasi Pelaku Karhutla Harus Diperkuat
JPNN.com · 3 September 2026 pukul 11.41
Soroti Ancaman Karhutla 2027, Riyono: Denda Bagi Korporasi Perusak Hutan Mencapai Rp 6,6 Triliun
JPNN.com · 3 September 2026 pukul 11.23