Kuliner Batang Gadis Hadirkan Rasa Tabagsel di Jakarta
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Rumah Makan Batang Gadis di Cibubur, Jakarta Timur, menghadirkan kuliner khas Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Sumatra Utara. Tempat ini menjadi ruang bagi masyarakat Mandailing dan Tabagsel di perantauan untuk menikmati makanan kampung halaman. Kisah kuliner dan budaya dibahas dalam program “Bincang Tipis-Tipis” yang dipandu Erman Tale Daulay dengan tema “Dari Sungai Batang Gadis Mengalir ke Meja Makan di Ibu Kota”. Narasumbernya adalah pemilik rumah makan Muhammad Nuh Nasution dan dosen Universitas Indonesia sekaligus peneliti budaya Tabagsel Akhir Marua Harahap.
Muhammad Nuh Nasution mengatakan nama Batang Gadis diambil dari sungai yang penuh kenangan bagi masyarakat Mandailing. Sungai itu menjadi tempat anak-anak berkumpul, memancing, berenang, hingga jalur menuju sawah. Rumah makan menyajikan daun ubi tumbuk, ikan mas bakar, ikan mas gulai, ikan sale, holat, dan sambal tuktuk untuk memenuhi kerinduan perantau terhadap rasa kampung halaman.
Akhir Marua Harahap menjelaskan Batang Gadis penting secara ekologis, sosial, dan ekonomi. Dalam bahasa setempat, “batang” merujuk pada sungai. Daerah aliran sungai menjadi jalur pergerakan manusia dan barang serta ruang perdagangan dan pertukaran budaya antara hulu dan pesisir. Kesuburan lahan membentuk warisan kuliner Tabagsel. Ikan merah yang hidup di sungai berarus deras dulu menjadi makanan para raja. Sambal tuktuk berbahan cabai, garam, dan ikan gadapang dari pesisir menunjukkan kreativitas kuliner dan hubungan pedalaman-pesisir. Di Jakarta, rumah makan ini menjadi sarana mempertahankan identitas budaya masyarakat perantauan.
Bagikan
Berita terkait
Dear Cinta
JPNN.com · 16 Agustus 2026 pukul 06.06
Menteri Jumhur Sayangkan Negara Besar Mundur dari Tanggung Jawab Kolektif Pulihkan Lingkungan
JPNN.com · 19 Agustus 2026 pukul 01.00
Polisi Tangkap Pria yang Viral Seret Pacar di Medan, Positif Narkoba
kumparan · 19 Agustus 2026 pukul 00.41
Jumhur Dorong Kearifan Lokal Jadi Solusi Krisis Iklim di BRICS
Liputan6.com · 19 Agustus 2026 pukul 00.33