Media Asing Tiba-Tiba Sorot Jurus RI Kuasai Harga Nikel hingga Sawit
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Indonesia sedang membangun bursa komoditas nasional (Icomex) yang diharapkan beroperasi pada 1 Januari 2027. Bursa ini bertujuan memperkuat pengaruh Indonesia terhadap harga komoditas strategis seperti nikel, kelapa sawit, dan batu bara. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa selama puluhan tahun, Indonesia menjadi produsen komoditas penting dunia, namun harga komoditas dari kekayaan alamnya masih sering ditentukan di bursa luar negeri.
Data menunjukkan Indonesia adalah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia serta salah satu eksportir batu bara termal dan minyak sawit terbesar. Namun, harga nikel rata-rata turun dari US$21.474 per ton pada 2023 menjadi US$15.349 per ton pada 2025. Pemerintah memangkas target produksi bijih nikel dari 379 juta ton pada 2025 menjadi 250 juta ton tahun ini, yang berdampak pada fluktuasi harga.
Menurut analis, keberhasilan Icomex sangat bergantung pada kemampuan membangun acuan harga yang kredibel serta menarik produsen dan pedagang untuk bertransaksi di dalamnya. Tantangan lain termasuk bersaing dengan bursa komoditas global seperti London Metal Exchange (LME) dan Bursa Malaysia Derivatives. Beberapa ahli sarankan bursa harus dimulai dengan beberapa komoditas saja untuk menguji sistem perdagangan secara bertahap.
Bagikan
Berita terkait
Bahlil Naik Pitam: 'Masa Barang Kita Diatur Negara Lain?' Indonesia Siapkan Bursa Komoditas
Warta Ekonomi · 19 Agustus 2026 pukul 17.04
Komoditas Strategis di Bursa Baru Belum Diputuskan, Mendag: Tunggu OJK
Liputan6.com · 27 Agustus 2026 pukul 16.30
Indonesia Perkuat Aliansi Negara Produsen Sawit
Media Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 14.01
Transaksi Tambang-Sawit Wajib Lewat Bursa Mineral, Ini Bocorannya
CNBC Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 18.35