Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Mengapa Kehamilan di Bawah Usia 20 Tahun Berisiko? Ini Penjelasan Medisnya

Kehamilan pada remaja di bawah 20 tahun dikategorikan sebagai kehamilan berisiko tinggi oleh World Health Organization (WHO) dan Mayo Clinic. Setiap tahun, sekitar 21 juta kasus kehamilan terjadi pada remaja usia 15-19 tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah, dengan hampir separuhnya merupakan kehamilan tidak direncanakan. Remaja berusia 10-19 tahun menghadapi ancaman kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan berusia 20-24 tahun, termasuk komplikasi seperti preeklamsia, eklamsia, endometritis pascapersalinan, dan infeksi sistemik.

Preeklamsia, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi setelah 20 minggu kehamilan, dapat berkembang menjadi eklamsia jika tidak ditangani dengan adekuat. Eklamsia merupakan kondisi kejang berat yang mengancam nyawa ibu dan janin. Selain itu, ibu remaja juga berisiko mengalami endometritis, yang ditandai dengan gejala demam dan nyeri perut bawah setelah melahirkan.

Kondisi ini juga memengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkan. Bayi dari ibu remaja memiliki risiko lebih tinggi mengalami berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur (sebelum 37 minggu), dan komplikasi neonatal berat. Data tahun 2020 mencatat sekitar 13,4 juta kasus kelahiran prematur global. Untuk mengurangi risiko, pemeriksaan antenatal rutin sangat penting untuk mendeteksi komplikasi sedini mungkin. WHO menekankan bahwa faktor seperti kemiskinan, perkawinan anak, dan terbatasnya akses informasi kesehatan reproduksi juga perlu diatasi secara sistemik.

Berita terkait