"NATO Islam" Muncul, Erdogan Kirim Pesan Tegas untuk Dunia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan dukungan kuat terhadap pembentukan konsorsium pertahanan baru yang melibatkan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Perjanjian ini, yang sering disebut sebagai 'NATO Islam', ditandatangani pada Agustus 2026 dan bertujuan untuk memperkuat solidaritas keamanan di kalangan negara-negara beragama Islam, terutama di tengah ketegangan yang meningkat di Teluk. Erdogan menekankan pentingnya langkah ini sebagai bentuk dukungan terhadap kemajuan dan stabilitas dunia Islam.
Dalam pernyataannya, Erdogan juga mengkritik struktur Dewan Keamanan PBB yang ia anggap tidak adil karena hanya mewakili lima negara, yaitu AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis. Ia menyerukan reformasi sistem internasional agar lebih inklusif dan mencerminkan kondisi dunia yang berubah. Menurutnya, dunia yang lebih adil dapat dicapai melalui kerja sama yang lebih erat di antara bangsa-bangsa yang tidak terwakili dalam struktur kekuasaan global saat ini.
Erdogan menyoroti kondisi yang tidak stabil di Selat Hormuz dan berbagai wilayah lain di Teluk, yang menjadi sumber kekhawatiran bagi keamanan regional. Ia menegaskan bahwa Turki siap memberikan dukungan penuh untuk mengatasi tantangan ini, baik melalui diplomasi maupun bantuan militer. Menurutnya, menjaga stabilitas di wilayah tersebut penting untuk mencegah eskalasi konflik yang dapat berdampak luas pada komunitas internasional.
Bagikan
Berita terkait
Mengapa 'NATO Islam' Tak Menolong Arab Saudi dari Serangan Houthi Yaman?
SINDOnews · 13 September 2026 pukul 06.59
Houthi Peringatkan Turki dan Pakistan Tidak Dukung Arab Saudi dalam Perang di Yaman
SINDOnews · 11 September 2026 pukul 19.29
Raksasa Nuklir Muslim Ultimatum Iran, Warning Negara Arab Mau Ngamuk
CNBC Indonesia · 11 September 2026 pukul 14.30
Pakistan: Serangan Houthi terhadap Arab Saudi Bisa Picu Respons Aliansi Makkah!
SINDOnews · 10 September 2026 pukul 09.48