Negara Kaya Minyak di Ambang Krisis Energi, Mati Lampu Sampai 36 Jam
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Libya, negara produsen minyak utama, kini digulung krisis energi berat akibat kombinasi gelombang panas, infrastruktur usang, dan penyelundupan bahan bakar massif. Pemadaman listrik berlangsung hingga 36 jam di sejumlah wilayah, memaksa pelaku usaha seperti restoran dan toko kue di Tripoli dan Benghazi mengandalkan generator dengan biaya hingga Rp28 juta per hari. Pasokan air dari Proyek Sungai Buatan Raya juga terputus akibat blackout total yang diumumkan GECOL. Di sisi lain, antrean bensin dapat mencapai dua kilometer, sementai harga solar di pasar gelap mencapai Rp29.920 per liter, jauh di atas harga subsidi resmi sebesar Rp2.600. Menurut The Sentry, kerugian akibat penyelundupan bahan bakar mencapai Rp117,92 triliun per tahun, dengan lebih dari separuh bahan bakar impor disedot oleh jaringan kriminal. Infrastruktur lanjutan rusak sejak perang 2014 belum diperbaiki, dan serangan drone baru-baru ini terhadap kompleks minyak di Zawiya semakin memperparah gangguan pasokan.
Bagikan
Berita terkait
Negara Kaya Minyak Krisis Energi: Listrik dan BBM Tak Ada-Warga Demo
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 21.40
Negara Kaya Minyak Dihantam Krisis: Antre BBM 6 Jam dan Listrik Padam
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 13.00
Raja Minyak Afrika Lumpuh Dihantam Krisis: Listrik Padam, BBM Langka
Detik.com · 31 Agustus 2026 pukul 11.40
Lagi-lagi Listrik di Kuba Lumpuh Total, Warga Jengkel
Detik.com · 19 September 2026 pukul 06.52