Ngerinya Panas Ekstrem di Afrika, Bahkan Unta Menderita
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Panas ekstrem di Afrika menghancurkan populasi unta. Wilayah Afar, Etiopia, mencatat kematian massal akibat suhu melampaui 50°C. Penggembala seperti Ali Umer kehilangan delapan anak unta dalam sebulan karena panas. Kaki unta melepuh, mata berair, dan kulit terbakar.
Data menunjukkan krisis meluas. Di Somalia, 46% keluarga pemilik unta terdampak, dengan tingkat kematian hingga 73% di Sool. Kenya mencatat peningkatan 15% kematian unta dalam dua tahun terakhir. Studi di Aljazair menunjukkan kematian signifikan selama gelombang panas. WMO melaporkan suhu di atas 50°C di Afrika Utara pada 2024, dengan pemanasan 0,43°C per dekade sejak 1991.
Unta mampu bertahan hingga 40°C, namun panas di atas 41-45°C merusak sel dan menyebabkan stres. Dampaknya: dehidrasi, penyakit, penurunan susu, gangguan reproduksi. Penggembala di Etiopia memindahkan unta ke selatan demi air dan vegetasi.
Bagikan
Berita terkait
Suhu Terpanas 'Didihkan' Eropa, Kapal Sampai Susah Berlayar
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 09.06
"Neraka Luber-Luber" di Eropa, Sungai Menghilang-Suhu Panas Mendidih
CNBC Indonesia · 7 Agustus 2026 pukul 21.30
Ahli Jerman Ungkap Fakta Baru soal Danau Toba, Banyak Orang Salah
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 14.30
PBB Peringatkan Lebih dari 650 Ribu Pengungsi di Sudan Selatan Hadapi Krisis Bantuan
VOI · 15 Agustus 2026 pukul 04.00