Pakar Ungkap Bahaya Silika Mikroskopis Abu Anak Krakatau dan Cara Efektif Mengantisipasinya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengandung partikel kaca silika mikroskopis berukuran kurang dari 2 milimeter (2.000 mikron) yang dapat menembus sistem penyaringan alami hidung dan mencapai paru-paru. Menurut Dr. Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, partikel ini berbeda dari debu biasa karena sifatnya yang halus dan khas. Abu vulkanik juga mengandung senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta logam berat dan mineral yang bersifat korosif. Ketika terhirup, kandungan asam ini bereaksi agresif dengan jaringan basah, memicu peradangan saluran pernapasan, iritasi mata, dan gangguan kulit. Dampak jangka panjang dapat menyebabkan penyakit seperti silikosis paru-paru. Masyarakat di sekitar area erupsi disarankan untuk menghindari paparan langsung dan menggunakan pelindung napas yang sesuai.
Bagikan
Berita terkait
Masih Erupsi, Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya Gunung Anak Krakatau
CNN Indonesia · 6 September 2026 pukul 11.40
Waspada Letusan Krakatau Lebih Besar, Ini Penjelasan Pakar Geologi
CNBC Indonesia · 6 September 2026 pukul 11.00
Ili Lewotolok Erupsi 4 Kali dalam 48 Jam, Kolom Abu Capai 600 Meter
CNN Indonesia · 6 September 2026 pukul 09.23
Batuk Berdahak tak Kunjung Sembuh? Waspadai Gejala PPOK dan Tanda-tandanya
Media Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 21.13