Jakarta · Selasa, 29 September 2026Cari
WargaKonoha

Peluang dan Tantangan Sektor EV di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik, sektor otomotif Indonesia, khususnya industri kendaraan listrik (EV), menghadapi tantangan seperti keterbatasan pasokan komponen, melemahnya nilai tukar rupiah, dan ketegangan rantai pasok. Namun, peluang besar tersedia melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk membangun ekososistem EV yang tangguh. Bank DBS Indonesia berkomitmen mendukung seluruh rantai nilai industri otomotif, dari produsen hingga dealer, dengan solusi perbankan yang terintegrasi dan konektivitas regional.

Dewan perwakilan rakyat (DPR) mendukung pengembangan industri EV dengan prinsip 'No One Left Behind', yang bertujuan memastikan inklusi bagi seluruh pihak, termasuk UMKM. DPR juga sedang menyusun regulasi terkait TKDN, kebijakan ketenagakerjaan khusus untuk industri EV, dan harmonisasi undang-undang untuk memberikan kepastian investasi. Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya pengembangan ekososistem dari hulu ke hilir, termasuk dukungan untuk daur ulang baterai EV yang menjadi limbah B3.

Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) melaporkan bahwa rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia semakin baik, namun sinkronisasi antar-sektor seperti baterai, pengisian, pembiayaan, dan bengkel masih perlu diperkuat. Para pengusaha menilai bahwa geopolitik global justru membuka peluang diversifikasi pasokan di Indonesia. Proyeksi menunjukkan bahwa penjualan EV akan melampaui kendaraan konvensional pada 2030, dan populasi EV bisa lebih besar pada 2035.

Berita terkait