Persaingan EV Kompetitif, RI Perlu Lakukan Ini Agar Tidak Ketinggalan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Persaingan industri kendaraan listrik (EV) semakin ketat dunia, menurut Saleh Partaonan Daulay, Ketua Komisi VII DPR RI. China memimpin industri EV, diikuti India dan AS, sementara Indonesia masih jauh di belakang. Daulay menilai Indonesia harus berada di peringkat keempat dengan memanfaatkan momentum saat ini. Ia menekankan pentingnya regulasi yang adil untuk menarik kembali para anak bangsa yang bekerja di luar negeri ke industri EV domestik. DPR sedang menyelaraskan regulasi dan melakukan kajian untuk perundang-undangan baru terkait EV. Sementara itu, Antonius Sehona dari DBS Indonesia menjelaskan tiga tren utama industri otomotif: elektrifikasi, lokalisasi rantai pasok, dan pemanfaatan AI serta teknologi data. Daya saing bukan hanya ditentukan kapasitas produksi, tetapi juga adaptasi teknologi dan efisiensi operasional. Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam seperti nikel dan tembaga, kunci bagi hilirisasi industri EV. DBS menekankan pentingnya ekosistem lengkap mulai dari manufaktur canggih hingga sektor baterai, termasuk produksi dan daur ulang. Pendekatan manajemen rantai pasok berpindah dari just-in-time ke just-in-scale untuk meningkatkan resiliensi industri.
Bagikan
Berita terkait
Soal Rencana Kendaraan Listrik Nasional, INDEF Beri Peringatan
JPNN.com · 16 Agustus 2026 pukul 14.58
Terungkap! MAB Indonesia Beberkan Kendala Pengembangan EV di RI
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 15.45
DBS Andalkan Jaringan 19 Negara Genjot Bisnis Otomotif Indonesia
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 14.55
Tak Sekadar Rakit Mobil, BYD Ditantang Bangun Rantai Pasok Lokal
Warta Ekonomi · 4 September 2026 pukul 09.34