Pencurian Listrik untuk Tambang Kripto Merebak di Asia Tenggara
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pencurian listrik untuk penambangan kripto makin marak di Asia Tenggara. Di Malaysia, penggerebekan di Johor mengungkap 71 mesin penambangan bitcoin ilegal yang mengonsumsi listrik tanpa melewati meteran, menimbulkan kerugian sekitar Rp300 juta dalam satu bulan. Antara 2020-2025, perusahaan listrik TNB menemukan hampir 14.000 lokasi pencurian listrik untuk kripto dengan total kerugian mencapai Rp23 triliun. Kasus serupa juga terjadi di Thailand dan Indonesia.
Penambangan kripto ilegal di kawasan ini terkait erat dengan kejahatan terorganisasi seperti perjudian online, pencucian uang, dan penipuan siber. Pada 2025, AS dan Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Prince Group asal Kamboja yang menggunakan tenaga kerja pencuci uang melalui kripto. Pemerintah negara-negara di kawasan merespons dengan penggerebekan, pemberatan hukuman, serta pemasangan meteran pintar.
Sementara itu, Laos menunjukkan sisi lain masalah ini. Meski melegalkan penambangan kripto untuk memanfaatkan kelebihan listrik tenaga air, industri ini ternyata hanya menimbulkan sedikit lapangan kerja dan tidak mendorong pertumbuhan ekonomi signifikan. Pemerintah Laos kini berencana menghentikan pasokan listrik bagi penambang kripto dan mengalihkannya ke sektor manufaktur dan pusat data AI.
Bagikan
Berita terkait
Konflik Geopolitik Jadi Pemicu Percepatan Energi Terbarukan di 6 Negara Asia Tenggara
JawaPos · 25 September 2026 pukul 17.30
Markas Pencucian Uang Ditemukan di Tengah Hutan, Ini Lokasinya
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 11.45
3 Bulan Operasi, 5 Pembobol Kartu Kredit via Fake SMS Raup Rp 50 Juta
Detik.com · 2 Oktober 2026 pukul 17.04
Wamenkeu Juda Agung Blak-blakan Soal Rencana Pembatasan Pertalite
CNBC Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 09.35