Pengunaan Desil untuk Pembatasan Pertalite Dinilai Bermasalah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Penggunaan desil untuk membatasi pembelian Pertalite dinilai bermasalah oleh CORE Yusuf Rendy Manilet. Metode proxy means test (PMT) tidak akurat di batas desil 8-9 karena perbedaan ekonomi rumah tangga yang tipis. Model pengeluaran hanya menjelaskan sebagian kesejahteraan, sisanya adalah residual. Yusuf menekankan variabel aset, rumah, listrik, dan pendidikan lebih mencerminkan stok kesejahteraan masa lalu, bukan arus kas hari ini yang relevan dengan kebijakan BBM. Kesalahan klasifikasi berdampak pada bantakan sosial, pendidikan, kesehatan, dan BBM. Ia menyarankan DTSEN sebagai penyaring awal dengan verifikasi tambahan untuk yang dekat batas, serta transparansi metodologi dan statistik kesalahan. Penggunaan karakteristik kendaraan sebagai indikator lebih mudah diverifikasi. Pemerintah perlu memastikan alat penentu akses subsidi cukup akurat.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 18 Agustus 2026 pukul 16.15
Siap-siap! Pembelian Pertalite hanya Bisa Sesuai Desil Tertentu, Cek Desil BPS-Bansos Pakai NIK
VOI · 19 Agustus 2026 pukul 16.50
Bahlil Sebut Pembatasan Pertalite untuk Desil 9 dan 10 Masih Dikaji
Warta Ekonomi · 19 Agustus 2026 pukul 16.41
Bahlil: Pembatasan Pertalite bagi Desil 9-10 Masih dalam Kajian
Warta Ekonomi · 19 Agustus 2026 pukul 15.24
Pertalite untuk Desil 9-10 Bakal Dibatasi? Ini Kata Bahlil
Berita terkait
Warga Protes Salah Masuk Desil 9-10, Purbaya Benahi Data DTSEN Jelang Pembatasan Pertalite
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 16.24
Soal Penerapan Pembatasan Pertalite, Purbaya: Tunggu 'DTSEN Baru'
CNBC Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 14.40
Airlangga Sebut Pembatasan Pertalite Juga Akan Mengacu Jenis Kendaraan
CNN Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 17.05
Airlangga Sebut Tak Ada Penambahan Desil, Perubahan Tunggu Sensus Ekonomi 2026
kumparan · 21 Agustus 2026 pukul 15.38