Perang Berlarut, Ekonomi Iran dan AS Sama-sama Babak Belur
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat berdampak buruk pada ekonomi kedua negara. Iran membentuk 'Markas Perang Ekonomi' untuk mengatasi inflasi, pengangguran, dan fluktuasi nilai tukar akibat sanksi AS. Sebagai langkah konkret, pemerintah Iran menaikkan harga bensin untuk konsumsi di atas 110 liter per bulan menjadi 10.000 toman per liter guna menjaga penerimaan negara.
Di sisi lain, AS menghadapi tekanan berupa lonjakan harga energi global. Harga minyak Brent mendekati USD100 per barel dan harga diesel AS mencapai rekor tertinggi, naik sekitar 90% sejak sebelum perang. Kondisi ini memicu risiko inflasi di berbagai sektor produksi dan transportasi, sehingga meningkatkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga meskipun data ketenagakerjaan AS masih menunjukkan ketangguhan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 07.35
Keputusan Trump Bikin Warga Sengsara, Bensin Tembus Rp72.700
VOI · 7 September 2026 pukul 13.20
Kesepakatan Nuklir Iran Bisa Tak Terjadi, AS Tetap Tekan Kemampuan dan Ekonomi Teheran
Detik.com · 7 September 2026 pukul 15.22
OJK Buka-bukaan Kondisi Keuangan RI di Tengah Perang Iran dan Selat Hormuz
Detik.com · 7 September 2026 pukul 14.32
Iran Siap Beri Balasan yang 'Lebih Menyakitkan' Jika AS Terus Menyerang
Berita terkait
Mengapa Serangan Balasan Iran ke Yordania dan UEA Sangat Berbeda dan Menyakitkan?
SINDOnews · 1 September 2026 pukul 01.10
Venezuela: Kesepakatan Minyak dengan AS Berlaku Selama 25 Tahun
CNN Indonesia · 30 Agustus 2026 pukul 19.05
Iran Bikin Tuntutan untuk AS, Isinya soal Cabut Sanksi hingga Selat Hormuz
Detik.com · 28 Agustus 2026 pukul 14.52
Di Tengah Perang dengan AS, Presiden Iran Ajak Negara Muslim Bersatu
Warta Ekonomi · 27 Agustus 2026 pukul 21.10