Jakarta · Jumat, 11 September 2026Cari
WargaKonoha

Perang Menggila-Minyak Bisa Kiamat: Usai Hormuz, Laut Ini dalam Bahaya

Kelompok Houthi yang didukung Iran merebut kota pelabuhan Mocha di pesisir Yaman dan bergerak ke Kepulauan Hanish, memperkuat kendali di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah. Penguasaan ini memberi Houthi akses langsung ke salah satu jalur perdagangan paling strategis dunia, sekaligus menambah tekanan terhadap pasokan energi global setelah konflik juga mengganggu Selat Hormuz. Jika Houthi menguasai Selat Bab el-Mandeb, Iran berpotensi mendapatkan kartu tekanan tambahan terhadap AS dan mengganggu koridor pasokan minyak utama.

Arab Saudi semakin bergantung pada Laut Merah setelah Selat Hormuz secara efektif ditutup akibat konflik dengan Iran. Houthi menyatakan pelayaran di Laut Merah aman kecuali untuk kapal milik Arab Saudi. Ancaman ini langsung mengguncang pasar: harga minyak mentak Brent melonjak 4% hingga US$105 per barel, sementara harga diesel rata-rata AS mencapai US$6 per galon.

Pemerintah Yaman, Iran, dan sumber lokal mengatakan pergerakan Houthi dilakukan dengan arahan langsung Korps Garda Revolusi Iran. Houthi membantah, menyatakan operasinya bersifat defensif dan akan berhenti jika serangan terhadap Yaman dihentikan. AS menilai eskalasi ini tidak dapat diterima dan menyebut Houthi sebagai "agen dan alat bagi Iran". Upaya pembukaan kembali Selat Hormuz juga tertunda, dengan hanya tujuh kapal melewati selat pada Rabu, setengah dari rata-rata sepuluh hari sebelumnya.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait