Perang Perparah Krisis Ekonomi Iran, Kelas Menengah Makin Terhimpit
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perang yang dimulai tahun lalu di Iran semakin memburukkan krisis ekonomi yang sudah ada sebelumnya. Menurut IMF, ekonomi Iran diproyeksikan kontraksi 5,4% pada tahun ini dengan inflasi hampir 69%. Bank Dunia memperingatkan bahwa konflik, melemahnya perdagangan, dan ketidakpastian berkepanjangan memberikan tekanan berat terhadap perekonomian. Inflasi tahunan mencapai 66%, sementara inflasi year-on-year mendekati 88%. Harga pangan melonjak drastis, dengan roti dan serealia naik 140%, daging dan unggas 135%, dan minyak goreng lebih dari 200%.
Krisis ini semakin menekan kelas menengah yang sebelumnya merasa aman. Seorang ibu rumah tangga bernama Mina mengaku tidak ingat terakhir membeli daging merah dan hanya fokus pada cara membayar sewa serta makanan. Para ahli memperkirakan 3,5 hingga 4,5 juta orang tambahan jatuh ke jurang kemiskinan sejak konflik membesar, menyalurkan lebih dari 40 juta orang di bawah garis kemiskinan.
Sektor swasta juga kesulitan. Perubahan rute perdagangan regional, seperti Cina yang mengisi kekosongan pemasok dari Dubai, memberikan sedikit manfaat bagi pedagang lokal. Nilai rial yang terus jatuh dan inflasi yang tidak stabil membuat pasar tidak berkembang. Meski harga minyak dunia naik, sanksi dan biaya transportasi tetap membatasi pendapatan Iran. Para ahli menekankan bahwa memulihkan kepercayaan investor dan konsumen butuh waktu jauh lebih lama dibandingkan memperbaiki kerusakan fisik akibat perang.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 11 Agustus 2026 pukul 07.35
Reformasi Presiden Bikin Investor Gembira, tapi Rakyat Masih Menjerit
Berita terkait
Di Tengah Perang dan Embargo, Bagaimana Ekonomi Iran Tetap Bertahan?
SINDOnews · 30 Juli 2026 pukul 12.15
Prabowo Targetkan Lifting Minyak di 2027 Capai 610.000 Barel per Hari
CNBC Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 15.57
Ekonomi Iran Tak Runtuh meski Diinvasi AS, Ini 4 Rahasianya
SINDOnews · 30 Juli 2026 pukul 04.40
201 Drone Ukraina Serbu Moskow, Rusia Bombardir Kyiv
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 18.25