Perang Tekan Ekonomi Iran, Inflasi Diproyeksi Meningkat Hampir 70% Akhir Tahun
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perang Iran dengan AS dan Israel sejak Februari 2024 mengakibatkan sanksi dan blokade laut yang menghancurkan ekonomi Iran. Inflasi diproyeksikan mencapai hampir 70% akhir tahun, sementara GDP menyusut lebih dari 5%. Harga beras naik 60%, daging sapi 150%, dan kebutuhan pokok menjadi sulit dijangkau. Pengangguran melonjak hingga 9,1% (actual lebih tinggi), lebih dari 1 juta pekerja hilang dalam tiga bulan. Warga harus bekerja lebih lama dengan gaji setengah nilai setahun lalu. Iran menggunakan strategi alternatif: produksi dalam negeri, perdagangan tidak resmi, dan armada rahasia untuk mengatasi sanksi. Pemerintah menahan diri menegakkan aturan hijab ketat, menunjukkan kekhawatiran terhadap opini publik. Presiden terpilih Masoud Pezeshkian mendukung negosiasi, namun Garda Revolusi memimpin negosiasi dengan tuntutan kendali Selat Hormuz dan kompensasi finansial.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Media Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 05.55
AS Meluncurkan "D-Day Ekonomi" Terbesar dalam Sejarah untuk Menghancurkan Iran
Media Indonesia · 25 Agustus 2026 pukul 13.50
AS Siap Jatuhkan Sanksi untuk Tiongkok jika Berbisnis dengan Iran
VOI · 25 Agustus 2026 pukul 13.05
AS Ancam Bakal Sanksi China jika Berbisnis dengan Iran
JPNN.com · 24 Agustus 2026 pukul 18.55
AS Memulai Operasi Economic D-Day untuk Mengisolasi Iran Secara Ekonomi
Berita terkait
Rial Iran Tembus 2 Juta per Dolar AS, Washington Perketat Tekanan Ekonomi
VOI · 24 Agustus 2026 pukul 18.45
Tingkatkan Tekanan, AS Deklarasikan 'Economic D-Day' terhadap Iran
Detik.com · 24 Agustus 2026 pukul 12.45
AS Ingin Iran Runtuh seperti Venezuela, tapi Justru Jadi Kekuatan yang Memukau Dunia
SINDOnews · 24 Agustus 2026 pukul 09.46
Mencekik Iran, AS Tercekik
Media Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 05.00