Di Tengah Perang dan Embargo, Bagaimana Ekonomi Iran Tetap Bertahan?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Iran telah menghadapi sanksi ekonomi selama lebih dari empat dekade, disusul perang dan ketegangan militer dengan Amerika Serikat serta Israel pada 2026. Meski demikian, ekonomi negara dengan populasi lebih dari 92 juta jiwa tidak pernah runtuh. Ekonom Hadi Kahalzadeh menyatakan bahwa keruntuhan ekonomi—didefinisikan sebagai kelaparan meluas, ketidakmampuan membayar pegawai, dan berhentinya layanan dasar—belum terjadi di Iran.
Ketahanan ekonomi Iran didukung oleh diversifikasi domestik, seperti sektor pertanian, manufaktur, dan jasa, yang mengurangi ketergantungan pada minyak. Perdagangan bayangan minyak, jaringan lintas batas, dan pasar kerja informal juga berperan. Namun, tekanan ini berdampak pada masyarakat, dengan inflasi mencapai sekitar 90%, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rial melemah terhadap dolar AS.
Upah minimum bulanan di Iran dilaporkan masih di bawah USD100, sementara pemerintah hanya memberikan subsidi tunai dan kupon elektronik untuk kebutuhan pokok. Ekonomi tetap bertahan meski beban sosial yang ditanggung masyarakat sangat berat.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 31 Juli 2026 pukul 11.00
Rupiah Dibuka Menguat, Tapi Masih di Kisaran 18.000 per Dolar AS
Liputan6.com · 31 Juli 2026 pukul 07.20
Harga Emas Dunia Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga
CNBC Indonesia · 30 Juli 2026 pukul 10.13
Breaking News! IHSG Melesat 1,17%
CNBC Indonesia · 29 Juli 2026 pukul 07.30
Strategi Investasi DBS: Optimalkan Momen Global dari Siklus Capex Baru
Berita terkait
Rupiah Melemah ke Rp17.722 Sore Ini, Tertekan Risiko Fiskal dan Geopolitik
SINDOnews · 31 Agustus 2026 pukul 15.45
Perang Perparah Krisis Ekonomi Iran, Kelas Menengah Makin Terhimpit
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 18.23
Bitcoin Melemah ke US$82.812, Gagal Tembus US$87.000
Warta Ekonomi · 29 September 2026 pukul 11.12
Ekonomi AS, Eropa-Jepang Tertekan Konflik, RI Malah Ketiban Cuan
CNBC Indonesia · 23 September 2026 pukul 15.45