Presiden Pening, Negara Tiba-Tiba Krisis Dolar
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Krisis dolar Amerika Serikat melanda Maladewa pada 2026, menyebabkan kelangkaan valuta asing yang membuat usaha kesulitan membayar pemasok luar negeri. Pemerintah Presiden Mohamed Muizzu menghadapi tekanan dengan beban pembayaran utang luar negeri mencapai US$1,7 miliar (Rp30,4 triliun) pada 2026. Untuk mengatasi krisis, pemerintah membayar sukuk senilai US$500 juta dan fasilitas swap mata uang US$400 juta dengan India, namun mengurangi pasokan dolar domestik. Pada September 2026, pemerintah menerbitkan kebijakan perketat perdagangan valuta asing, termasuk sanksi pidana untuk penjualan valuta asing di atas batas dan kewajiban konversi 40% pendapatan valuta asing dari resor ke bank lokal. Kebijakan ini dipakai untuk meningkatkan cadangan dolar demi memenuhi kebutuhan impor, namun menimbulkan kritik dari pelaku pariwisata yang menghadapi biaya operasional dalam dolar. Krisis ini menjadi amunisi politik bagi kelompok lawan Muizzu, termasuk mantan Presiden Abdulla Yameen yang menyalahkan kebijakan konversi dolar.
Bagikan
Berita terkait
Rupiah Berpotensi Melemah, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Data ULN
JawaPos · 17 September 2026 pukul 07.30
Bukan AS atau IMF, Ini Pemasok Utang Terbesar Indonesia
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 13.50
Utang Luar Negeri RI dalam Dolar Terus Merosot, Lari ke Mata Uang Ini
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 12.55
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 8.004 T
Detik.com · 15 September 2026 pukul 16.24