Jakarta · Selasa, 1 September 2026Cari
WargaKonoha

Rayuan Taliban Agar AS Kucurkan Investasi Pertambangan

Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi meminta Amerika Serikat (AS) untuk menginvestasikan sektor pertambangan dan pertanian di Afghanistan. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia menyatakan bahwa potensi mineral di negaranya mencapai US$1 triliun (setara Rp17.732 triliun), didasarkan pada penilaian USGS tahun 2009. Muttaqi menekankan bahwa hubungan AS-Afghanistan harus dilihat dari perspektif kerja sama masa depan, bukan konflik dua dekade terakhir. Sejak kembali kekuasaan pada 2021, Taliban telah menandatangani kontrak pertambangan senilai lebih dari US$7 miliar, sebagian besar dengan perusahaan dari China, Iran, dan negara lain yang bersedia bekerja sama. Afghanistan kaya akan sumber daya seperti tembaga, litium, kobalt, logam tanah jarang, dan nikel, yang menjadi bagian dari Daftar Mineral Kritis AS 2025. Namun, lima tahun di bawah pemerintahan Taliban, Afghanistan tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia dengan sepertiga penduduknya mengalami kelaparan akut dan pembatasan hak-hak perempatan. Para pakar PBB memperingatkan agar tidak ada normalisasi hubungan dengan Taliban tanpa peningkatan nyata dalam hak asasi manusia. Sementara itu, AS belum mengambil langkah konkret untuk memperketat hubungan, meskipun Muttaqi mendorong pembukaan kembali kedutaan besar AS di Kabul.

Berita terkait