Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ternyata AS Tak Dukung Reza Pahlavi Jadi Pemimpin Baru Iran

Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan tahun 1979, berupaya memimpin masa transisi jika Republik Islam Iran runtuh. Namun, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan dukungan resmi terhadap ambisinya. Awalnya, Pahlavi sempat menjadi sorotan selama konflik AS-Israel melawan Iran, tetapi situasi berubah setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman terhadap Iran, yang tidak dikutuk langsung oleh Pahlavi, memicu kekecewaan pendukung dan penyandang dana.

Penyumbang dana yang telah menggelontorkan lebih dari US$3 juta (sekitar Rp54 miliar) mulai mempertanyakan efektivitas kepemimpinan Pahlavi. Ia dinilai belum berhasil menyatukan kelompok oposisi dan kurang tegas mengecam kekerasan dari pendukung garis kerasnya. Pahlavi membantah tudingan tersebut, menegaskan dirinya mengutuk kekerasan dan hanya ingin menjadi jembatan bagi rakyat Iran. Ia juga mengklaim telah berkomunikasi dengan lebih dari seribu kelompok di Iran, meski klaim ini belum terverifikasi independen.

Meski survei menempatkan Pahlavi sebagai figur oposisi yang paling dikenal, tantangan besar tetap ada. Oposisi Iran terpecah, dan pemerintahan Trump lebih memilih jalur negosiasi dengan pemerintah Iran daripada mendorong pergantian rezim. Kondisi ini membuat peluang Pahlavi untuk memimpin Iran pasca-Republik Islam masih tidak pasti.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait