Tradisi Buang Sial, Adakah Dasarnya? Ini Penjelasan Dalil Al-Qur'an dan Hadis
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Tradisi buang sial masih dikenal di sejumlah daerah sebagai upaya menghilangkan kesialan dan mendatangkan keberuntungan. Namun dalam Islam, keyakinan bahwa benda, hari, angka, atau seseorang dapat membawa sial termasuk khurafat yang tidak berdasar syariat. Islam menegaskan tidak ada yang memberi manfaat atau mudarat kecuali atas izin Allah; apa yang dianggap sial sejatinya adalah takdir, ujian, atau akibat perbuatan manusia sendiri. Rasulullah bersabda bahwa tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa, sehingga Muslim dianjurkan menghadapi ujian dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, bukan ritual tanpa dasar agama.
Keyakinan merasa diri selalu bernasib buruk atau membawa sial termasuk at-tathayyur (thiyarah), yaitu meyakini pertanda buruk dari sesuatu, seperti menganggap angka 13 sial atau mempercayai mitos. Para ulama menyebut at-tathayyur sebagai syirik kecil karena merusak kesempurnaan tauhid. Peringatan ini dikuatkan oleh QS An-Nisa: 48 yang menyatakan Allah tidak mengampuni dosa syirik. Secara bahasa, at-tathayyur berasal dari kebiasaan Arab Jahiliyah yang menjadikan arah terbang burung sebagai pertanda baik atau buruk sebelum bekerja.
Bagikan
Berita terkait
Percaya Mitos, Benarkah Bisa Merusak Akidah?
SINDOnews · 6 Agustus 2026 pukul 10.14
HUT RI ke-81 : Kemerdekaan Sejati dalam Islam, Bebas dari Penghambaan kepada Manusia
SINDOnews · 17 Agustus 2026 pukul 05.15
Doa Ketika Khawatir Terjadi Keburukan atau Kesialan
SINDOnews · 3 Agustus 2026 pukul 15.27
Berpikir Sial Ternyata Sangat Berbahaya, Begini Penjelasannya
SINDOnews · 3 Agustus 2026 pukul 11.15