Ujian Baru Sikap Nonblok Malaysia di Antara AS-China
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Kuala Lumpur tidak akan dipaksa memilih antara AS dan Cina, namun pernyataannya tentang Taiwan dan penggunaan kekuatan militer menimbulkan kontroversi. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Anwar menyatakan dukungan terhadap prinsip 'satu Cina' dan mengakui bahwa penggunaan kekuatan dapat dibenarkan untuk melindungi kedaulatan negara. Pernyataan ini disambut antusias oleh Beijing, tetapi dikecam oleh Taiwan yang khawatir akan dampaknya pada investasi di sektor strategis seperti semikonduktor.
Sebaliknya, Anwar juga menekankan pentingnya memperkuat pertahanan Malaysia di Sabah, terkait dengan perluasan fasilitas militer AS di Pulau Balabac, Filipina. Filipina yang berada dalam Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) dengan AS, hanya berjarak 50 km dari wilayah Malaysia. Ketegangan ini berakar pada sengketa wilayah yang sudah lama berlangsung antara Kuala Lumpur dan Manila mengenai klaim Filipina terhadap Sabah.
Para ahli mengamati bahwa meskipun retorika Anwar terkadang terlihat menguntungkan Cina, strategi luar negeri Malaysia tetap bersikap pragmatis dan menjaga keseimbangan. Hubungan dengan AS dan negara-negara Barat tetap kuat secara strategis. Anwar diperkirakan akan mengunjungi Cina pada akhir September untuk mempererat hubungan ekonomi, meskipun Malaysia tetap menolak klaim maritim Cina di Laut Cina Selatan dan akan terus melakukan eksplorasi minyak dan gas di wilayah yang disengketakan.
Bagikan
Berita terkait
PM Malaysia Sebut Taiwan Bagian dari China, Beijing Sambut dengan Gembira
Warta Ekonomi · 21 Agustus 2026 pukul 07.49
China Tiba-Tiba Puja-puji PM Malaysia Anwar Ibrahim, Ada Apa?
CNBC Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 16.50
Anwar Ibrahim Dukung China Gunakan Kekuatan terhadap Taiwan, Taipei Marah
SINDOnews · 20 Agustus 2026 pukul 14.26
1.500 Anak PMI di Malaysia Berstatus WNI, Tersedia Akses Kesehatan-Pendidikan
JPNN.com · 4 September 2026 pukul 15.17