Besaran insentif tentukan keberhasilan peralihan motor BBM ke listrik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai insentif pembelian motor listrik pemerintah sebesar Rp3 juta per unit masih perlu ditinjau kembali karena dianggap terlalu rendah untuk mendorong adopsi yang signifikan. Pemerintah menyediakan anggaran Rp3 triliun untuk program ini, menargetkan 1 juta motor listrik produksi dalam negeri. Analisis IESR menunjukkan bahwa insentif yang lebih besar, seperti Rp5 juta ditambah Rp3 juta dari program tukar tambah, dapat meningkatkan adopsi motor listrik hingga 810 ribu unit dibandingkan skenario bisnis seperti biasa (BAU) pada 2030. Setiap motor yang beralih dari BBM ke listrik memberikan manfaat sekitar Rp5,6 juta dalam sepuluh tahun, atau hingga Rp28 juta jika termasuk penghematan devisa, pengurangan polusi udara, dan nilai karbon. Jika satu juta motor listrik digunakan untuk perjalanan harian sejauh 40 km, konsumsi BBM dapat berkurang antara 250 ribu hingga 365 ribu liter per tahun. Selain itu, biaya kepemilikan motor listrik lebih rendah, yaitu Rp346 per kilometer dibandingkan Rp506 per kilometer untuk motor bensin. IESR menekankan bahwa insentif harus tidak hanya fokus pada subsidi pembelian, tetapi juga mendukung pengembangan ekosistem pengisian dan rantai pasok kendaraan listrik.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Media Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 16.47
IESR Sebut Insentif Motor Listrik Rp3 Juta Terlalu Kecil
Berita terkait
IESR Desak Pemerintah Terbitkan Paket Ekonomi yang Dorong Masyarakat Tinggalkan Kendaraan BBM
JawaPos · 24 Agustus 2026 pukul 22.30
Rencana Pemangkasan Insentif Motor Listrik Dinilai Menjaga Ketahanan Fiskal
JPNN.com · 22 Agustus 2026 pukul 07.00
Aismoli: Belum Ada Koordinasi Pemerintah Soal Insentif Motor Listrik
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 16.06
ALVA dan Gesits Disebut Bakal Dapat Insentif Motor Listrik, Harganya Mulai Rp23 Jutaan
Warta Ekonomi · 20 Agustus 2026 pukul 21.43