BI: Pembayaran Digital dan Uang Tunai Saling Melengkapi, Bukan Menggantikan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pembayaran digital dan uang tunai saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Asisten Gubernur Anwar Bashori menyatakan bahwa digitalisasi pembayaran terus berkembang, namun uang tunai tetap diperlukan terutama di wilayah dengan akses jaringan dan infrastruktur digital terbatas. Hal ini disampaikan dalam acara Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) di Istora Senayan, Jakarta, pada 14 Agustus 2024.
Geografi Indonesia yang tersebar di sekitar 17.000 pulau membuat pola penggunaan pembayaran digital bervariasi. Di wilayah seperti Jakarta dan Jawa dengan tingkat edukasi dan akses digital tinggi, penggunaan QRIS berkembang pesat. Sebaliknya, di daerah terpencil dan 3T yang belum terjangkau jaringan, masyarakat masih bergantung pada uang tunai untuk transaksi sehari-hari.
BI juga menekankan pentingnya ketersediaan uang pecahan kecil, terutama untuk transaksi di pasar tradisional dan momen seperti Ramadan serta Lebaran. Menurut Anwar, sekitar 20 persen dari uang beredar di Indonesia masih berupa uang tunai, sementara sisanya adalah uang non-tunai. Kebutuhan akan uang tunai tetap ada karena belum ada negara yang sepenuhnya meninggalkan penggunaan uang fisik.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
ANTARA News · 13 Agustus 2026 pukul 19.54
BI: Pengguna QRIS di Jateng capai 9,08 juta orang
JawaPos · 13 Agustus 2026 pukul 06.00
Era Baru Pembayaran Digital, Visa Indonesia Ungkap Tren Transaksi Tanpa Proses Manual
Berita terkait
BI Sebut Penggunaan Uang Tunai Mulai Melambat Imbas Pembayaran Digital
CNN Indonesia · 24 September 2026 pukul 21.00
BI fokus jaga kepercayaan seiring pesatnya pembayaran digital
ANTARA News · 28 September 2026 pukul 15.05
BI catat transaksi QRIS antarnegara tembus Rp6,2 triliun
ANTARA News · 26 September 2026 pukul 19.03
Transaksi QRIS Wisman di RI Capai Rp 6,2 T, Warga RI di Luar Negeri Rp 1,85 T
kumparan · 26 September 2026 pukul 15.45