BI Sebut Rupiah Melemah 7,74% Sepanjang 2026
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank Indonesia (BI) mencatat depresiasi rupiah sebesar 7,74% year to date (ytd) pada 2026, atau sepanjang Januari hingga 29 September 2026. Pelemahan rupiah berhubungan dengan faktor global seperti keputusan Federal Reserve (AS) menaikkan suku bunga, konflik Selat Hormuz, dan kenaikan defisit fiskal AS yang memicu emisi surat utang dengan suku bunga lebih tinggi. Dengan indeks nilai dolar AS (DXY) melampaui 101, mata uang negara lain melemah, termasuk rupiah. BI membandingkan volatilitas rupiah 7,30% dengan Korea Selatan (15,6%), Filipina (8,7%), dan Malaysia (8,59%). BI tetap aktif di pasar melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic NDF untuk menjaga pergerakan rupiah selaras fundamental. Lonjakan permintaan valuta asing pada kuartal III didorong repatriasi dan impor, dengan BI berharap kondisi membaik setelah kuartal II menuju akhir tahun.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 30 September 2026 pukul 14.00
Nilai Tukar Rupiah Terdepresiasi 7,74 Persen hingga Akhir September 2026, Ini Penjelasan BI
kumparan · 30 September 2026 pukul 13.53
BI Ungkap Rupiah Melemah 7,74 Persen Sejak Awal Tahun 2026, Ini Penyebabnya
CNN Indonesia · 30 September 2026 pukul 13.27
Bunga AS Naik, BI Waspadai Risiko Modal Asing Kabur dari RI
ANTARA News · 30 September 2026 pukul 11.36
Rupiah menguat seiring penurunan harga minyak yang cukup besar
Berita terkait
Rupiah Bangkit ke Rp17.903 per Dolar AS Jumat Sore
CNN Indonesia · 25 September 2026 pukul 15.56
Rupiah Hampir Tembus 18.000 per Dolar AS, Ekonom Beri Saran ke BI
Liputan6.com · 25 September 2026 pukul 13.45
Awal Perdagangan, Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.871 per USD
Warta Ekonomi · 24 September 2026 pukul 09.20
Rupiah Menguat ke Rp17.838 per Dolar AS Rabu Pagi
CNN Indonesia · 23 September 2026 pukul 09.31