DPR sebut Desil Bukan Tolak Ukur Kekayaan Absolut, Data Penerima Subsidi Bisa Kacau
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar meminta pemerintah berhati-hati menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk menentukan penerima atau pencabutan subsidi energi. Ia menjelaskan bahwa desil 9 atau 10 pada DTSEN merupakan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan, bukan ukuran kekayaan absolut. Penggunaan desil tersebut sebagai satu-satunya dasar dapat menyebabkan kesalahan sasaran, menghimpuskannya dengan masyarakat yang benar-benar rentan namun tidak tercatat sebagai kaya. Gunhar menyarankan DTSEN harus digunakan sebagai instrumen penyaringan awal, digabungkan dengan data konsumsi energi, kepemilikan kendaraan, pendapatan, dan beban pengeluaran rumah tangga agar kebijakan subsidi lebih adil dan efektif. Reformasi subsidi harus mempertimbangkan keadilan sosial, bukan hanya efisiensi anggaran.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 27 Agustus 2026 pukul 08.01
Pemerintah Janji Perbaiki Data Desil Usai Banyak Diprotes
SINDOnews · 26 Agustus 2026 pukul 15.41
Heboh soal Desil, Purbaya Ngaku Keluarin Rp7 Triliun Lebih buat Sensus dan Perbaikan DTSE
Berita terkait
Peringatan Hari Kemerdekaan Harus Jadi Momentum Dorong Wujudkan Kebijakan yang Adil dan Merata
Media Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 18.45
Warga Protes Salah Masuk Desil 9-10, Purbaya Benahi Data DTSEN Jelang Pembatasan Pertalite
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 16.24
Purbaya Kejar Perbaikan Data Desil, Target Lebih Rapih di Tahun Depan
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 13.58
BPS Ungkap Alasan Desil Tak Selalu Cocok dengan Kekayaan Warga: Bukan Ukuran Kondisi Ekonomi
Warta Ekonomi · 24 Agustus 2026 pukul 15.17