Jakarta · Minggu, 4 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Ekonomi Indonesia Menguat, Inflasi Terkendali hingga Manufaktur Ekspansif

Ekonomi Indonesia memasuki Triwulan IV-2026 dengan tiga sinyal positif kuat. Inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara year-on-year (yoy), masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1%. Inflasi inti turun menjadi 2,84% yoy, sementara inflasi harga yang diatur pemerintah (Administered Prices) mencapai 3,25% yoy. Namun, inflasi kelompok Volatile Food masih tinggi di 5,03% yoy akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam yang menurunkan produksi hortikultura. Pemerintah memperkuat koordinasi pusat-daerah serta program seperti penyaluran beras 10 kg/bulan, Gerakan Pangan Murah, dan optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah untuk menjaga pasokan dan keterjangkauan harga hingga akhir tahun.

Di sisi ekspor, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar pada Januari-Agustus 2026. Ekspor besi dan baja mencapai US$19,18 miliar (tumbuh 4,88%), CPO dan turunannya US$17,75 miliar (tumbuh 6,57%), serta batu bara US$16,58 miliar (tumbuh 4,31%). Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62%, menunjukkan kontribusi hilirisasi. Impor didominasi bahan baku dan barang modal (91,3%), dengan peningkatan impor mesin mekanis 15,26% dan mesin elektrik 22,94%, mencerminkan peningkatan aktivitas produksi dan investasi.

Sektor manufaktur juga menunjukkan kekuatan. PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus, masuk zona ekspansi. Peningkatan didukung oleh pertumbuhan pesanan baru tercepat sejak Februari 2026, pesanan ekspor tercepat sejak Mei 2022, penyerapan tenaga kerja yang meningkat, dan perlambatan inflasi harga input dan output ke level terendah dalam enam bulan.

Peristiwa ini diliput 3 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait