Harga Sulfur Meroket, Proyek HPAL Vale Kena Tekanan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghadapi tantangan biaya pada proyek pengolahan nikel High-Pressure Acid Leach (HPAL) akibat lonjakan harga sulfur global. Sulfur merupakan bahan utama pembuatan asam sulfat untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Kebutuhan sulfur untuk HPAL sangat besar, yakni sekitar 11,7 ton sulfur untuk setiap satu ton MHP yang diproduksi.
Kenaikan harga sulfur dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang merupakan sumber 75-80% impor sulfur Indonesia. Harga sempat melonjak dari US$250 per ton pada April 2025 menjadi US$1.200 per ton pada Juni 2026. Meskipun harga mulai menurun, levelnya masih tinggi dan berpotensi menekan keekonomian proyek HPAL Vale di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako.
Untuk memitigasi risiko, Vale mengkaji penggunaan pirit sebagai bahan alternatif penghasil asam sulfat, meski masih memerlukan pembuktian teknis. Saat ini, stok sulfur di Sorowako hanya mampu mencukupi kebutuhan hingga awal tahun depan, sementara proyek HPAL Pomalaa sedang memasuki tahap akhir konstruksi dan pengujian.
Bagikan
Berita terkait
Harga Sulfur Tinggi, Tantangan Vale Jelang Ekspansi HPAL
Liputan6.com · 10 September 2026 pukul 18.16
Pengajuan Revisi RKAB Vale Belum Disetujui Pemerintah
Warta Ekonomi · 14 September 2026 pukul 19.30
Keruk Nikel 13 Juta Ton Hasilkan PNBP Rp21 Triliun
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 20.54
Kepala Pengawas Bursa Mineral Mau RI Tentukan Harga Nikel, Ini Alasannya
Detik.com · 9 September 2026 pukul 16.17